Banyak orang berpikir dosis obat anak cukup dihitung dengan “setengah” atau “seperempat” dari dosis dewasa. Padahal, faktanya dunia farmasi membuktikan bahwa tubuh anak tidak bisa dianggap sebagai miniatur orang dewasa. Sistem metabolisme, fungsi hati, dan ginjal anak bekerja dengan cara yang berbeda, sehingga perhitungan dosis obat harus sangat hati-hati.
Fakta menariknya, ada rumus khusus yang digunakan farmasis dan dokter untuk menentukan dosis anak, seperti rumus *Young, **Clark, atau berdasarkan *berat badan dan luas permukaan tubuh. Hal ini dilakukan agar obat bekerja efektif tanpa menimbulkan risiko overdosis maupun underdosis.
Contoh nyata adalah penggunaan parasetamol. Obat ini aman jika diberikan sesuai dosis, namun bisa berbahaya bagi hati anak bila diberikan terlalu banyak. Inilah alasan mengapa obat anak biasanya tersedia dalam bentuk sirup dengan sendok takar khusus, bukan dengan perkiraan sembarangan.
Selain itu, beberapa obat dewasa sama sekali tidak boleh diberikan pada anak karena bisa mengganggu tumbuh kembang. Misalnya, aspirin tidak disarankan untuk anak-anak karena bisa memicu sindrom Reye, suatu kondisi langka tapi berbahaya yang menyerang hati dan otak.
Fakta lain yang unik, anak-anak lebih sensitif terhadap rasa dan aroma obat. Karena itu, farmasis merancang sediaan cair dengan tambahan perasa buah atau pemanis agar anak mau minum obat dengan lebih mudah.
Semua hal ini menunjukkan bahwa farmasi memiliki peran vital dalam memastikan keamanan obat untuk pasien usia anak. Jadi, jangan pernah menebak-nebak dosis obat untuk anak tanpa petunjuk tenaga kesehatan.
📌 Ikuti Akun Sosial Media Resmi Kita di:
📍 Official Account: @ummadacirebon
📍 Fakultas Farmasi: @farmasi.ummada
📍 Fakultas Ilmu Kesehatan: @fikes.ummada
📍 Fakultas Ekonomi, Sosial & Humaniora: @feshum.ummada
🌍 Website Resmi: ummada.ac.id
🎥 YouTube: @ummadacirebon
📩 E-Mail: [email protected] / [email protected]





